Bersama Madrid, Ancelotti Catat Persentase Kemenangan Terbaik

carloancelottigettyi

bolaini.com – Perjalanan karier Carlo Ancelotti bersama Real Madrid terhenti setelah dua musim. Bersana Madrid itulah Ancelotti mencatatkan rata-rata kemenangan terbaik di sepanjang karier kepelatihannya.

Ancelotti diangkat sebagai pelatih Madrid di musim panas 2013. Dia ditunjuk untuk menggantikan posisi Jose Mourinho dan diikat dengan kontrak yang berdurasi tiga tahun.

Musim perdana Ancelotti bersama Madrid terbilang sukses. Pelatih asal Italia itu mempersembahkan dua gelar untuk Los Blancos. Trofi Copa del Rey serta Liga Champions berhasil dibawa pulang ke Santiago Bernabeu.

Tapi musim kedua tak berjalan sebaik musim pertama. Madrid mengakhiri musim tanpa satu gelar pun. Ancelotti pun akhirnya didepak oleh Florentino Perez.

Selama dua musim, Ancelotti memimpin Madrid di 119 pertandingan di semua kompetisi. Jumlah kemenangan yang dibukukan pun tak bisa dibilang sedikit. Ancelotti membawa Madrid memenangi 89 pertandingan dan hanya kalah 16 kali.

Dengan demikian, Ancelotti punya persentase kemenangan mencapai 74,79% atau memenangi hampir 3/4 dari jumlah seluruh pertandingan Madrid. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbaik di antara pelatih-pelatih Madrid lainnya di era Florentino Perez.

Sementara itu, secara keseluruhan, 74,79% merupakan persentase terbaik yang pernah dicatatkan Ancelotti selama menjadi pelatih. Demikian seperti dilansir oleh Opta.
Jumlah persentase terbaik kedua dicatatkan Ancelotti bersama Paris Saint-Germain. Selama 1,5 tahun melatih raksasa Prancis itu, Ancelotti meraih 49 kemenangan dari 77 pertandingan di semua kompetisi atau sebesar 62%. Dia mempersembahkan trofi Ligue 1 di musim 2012/2013.

Sementara itu, bersama Chelsea, Ancelotti punya persentase kemenangan sebesar 61%. Dua musim melatih The Blues, Ancelotti memenangi Premier League 2009/2010, Piala FA 2009/2010, dan Community Shield di tahun 2009.

Di Juventus, persentase kemenangan Ancelotti sebesar 57%. Sedangkan bersama Milan, Ancelotti yang melatih selama7,5 tahun memenangi 56% dari 423 pertandingannya. Namun bersama Rossoneri lah Ancelotti meraih banyak trofi. Dia memenangi Liga Champions dua kali, Piala Super UEFA dua kali, dan masing-masing satu Piala Dunia Antarklub, Serie A, Coppa Italia, dan Supercoppa Italiana.

Persentase Kemenangan Ancelotti selama menjadi pelatih menurut Opta:

Real Madrid 74%
PSG 62%
Chelsea 61%
Juventus 57%
AC Milan 56%

Mourinho kepada Fans Chelsea: Pesanlah Lagi Tempat untuk Parade Musim Depan

duing the Chelsea FC Premier League Victory Parade on May 25, 2015 in London, England. (Photo by Ben Hoskins/Getty Images)

bolaini.com – Manajer Chelsea Jose Mourinho bertekad kembali meraih gelar penting musim depan. Oleh karena itu, dia berpesan kepada para penggemar The Blues untuk bersiap melakukan pesta lagi tahun depan.

Pesan itu dikatakan Mourinho di atas bus bak terbuka saat Chelsea melakukan parade perayaan juara di kota London. Parade ini untuk merayakan keberhasilan Chelsea meraih gelar juara Premier League dan Piala Liga Inggris musim ini.

Mourinho lantas mengucapkan terima kasih terhadap para penggemar untuk dukungannya sepanjang musim ini. Dia juga mengatakan kepada mereka untuk bersiap melakukan parade lain tahun depan.

“Terima kasih kepada kalian atas semuanya, atas semua dukungan kalian. Pesanlah tempat lagi untuk parade musim depan. Saya harap kami bisa memberikan lagi kalian parade yang lain,” kata Mourinho lewat pengeras suara, seperti dikutip London Evening Standard.

Sejauh ini Mourinho sudah mengoleksi tiga gelar Liga Inggris dan Piala Liga Inggris, juga satu titel Piala FA bersama Chelsea. Musim ini merupakan musim pertama dari periode keduanya di klub London barat tersebut.

Yang menarik adalah, dalam perayaan gelar tersebut, Mourinho mencoba menyanyikan anthem Chelsea berjudul ‘Blue is The Colour’. Sayangnya, pria Portugal itu hanya tahu beberapa baris kata saja.

“Blue is the colour, la, la, la, la,” nyanyinya di atas bus.

Otot Paha Barzagli Sobek, Terancam Absen Hadapi Barcelona

during the UEFA Champions League Quarter Final First Leg match between Juventus and AS Monaco FC at Juventus Arena on April 14, 2015 in Turin, Italy.

bolaini.com – Kurang dari dua pekan sebelum final Liga Champions Juventus dapat kabar buruk dari salah satu pilarnya. Andrea Barzagli mengalami cedera sobek otot dan dikhawatirkan absen di Berlin.

Masih 11 hari lagi sebelum Juventus berhadapan dengan Barcelona di final Liga Champions, yang bakal dihelat di Olympiastadion Berlin. Saat duel penentu didapatnya treble winner itu tingga hitungan hari, Juve terancam kehilangan bek kuatnya.

Situs resmi Juventus pada Senin (25/5/2015) kemarin waktu setempat mengonfirmasi cedera Barzagli. Pesepakbola 34 tahun itu bermasalah dengan pahanya setelah ototnya mengalami sobek dalam laga menghadapi Napoli di akhir pekan kemarin.

“Barzagli kini akan memulai perawatan dan kondisinya akan dimonitor hari per hari supaya dia bisa tersedia untuk final Liga Champions,” demikian pernyataan Bianconeri dilutip dari situs resmi UEFA.

Barzagli sudah menjalani pemeriksaan MRI dan dipastikan cedera robek otot rectus femoris kelas satu. Cedera ini menjadi pukulan lanjutan buat Barzagli karena dia baru kembali bermain di Maret lalu setelah mengalami cedera tumit di Piala Dunia 2014.

Sebagai catatan, gawang Juventus bersih dari kebobolan selama 206 menit Barzagli berada di atas lapangan. Kehilangan Barzagli akan membuat Massimiliano Allegri terbatas pilihannya dalam meramu strategi terutama untuk barisan belakang.

Bahkan Ronaldo Tak Mampu Selamatkan Ancelotti

MADRID, SPAIN - APRIL 22: ... of Real Madrid ... during the UEFA Champions League Quarter Final second leg match between Real Madrid CF and Club Atletico de Madrid at Estadio Santiago Bernabeu on April 22, 2015 in Madrid, Spain. (Photo by Angel Martinez/Real Madrid via Getty Images)

bolaini.com – Hanya sekitar setahun setelah memberi Real Madrid La Decima yang begitu dinantikan, Carlo Ancelotti dipecat dari kursi pelatih. Bahkan Cristiano Ronaldo tidak mampu menyelamatkan Don Carletto.

Ancelotti resmi diberhentikan sebagai pelatih Madrid pada Senin (25/5/2015) waktu setempat. Presiden Florentino Perez sendiri yang membacakan keputusan tersebut, setelah pelatih asal Italia itu gagal memberi El Real trofi di akhir musim.

Meski menyudahi kompetisi tanpa membawa pulang trofi, musim Madrid sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Di tengah perjuangan bersaing dengan Barcelona, Madrid diantar Ancelotti memenangi Piala Dunia Antarklub pada Desember lalu. Sementara di awal musim, Iker Casillas dkk juga diberinya Piala Super Eropa.

Total ada empat trofi diberikan Ancelotti selama dua musim bermukim di Santiago Bernabeu. Dengan yang paling prestisius tentu saja trofi Liga Champions 2013/2014. Itu merupakan trofi ke-10 Madrid di Liga Champions – yang dikenal sebagai La Decima – dan mengakhiri penantian 12 tahun Madrid untuk bertakhta lagi di Eropa.

Setelah Barca memastikan jadi juara di pekan 37, masa depan Ancelotti makin ramai dispekulasikan. Rumor tersebut berembus makin kencang setelah Madrid menutup musim dengan kemenangan 7-3 atas Getafe.

Usai laga tersebut, Cristiano Ronaldo masih menunjukkan dukungannya pada sang pelatih. Melalui akun Twitternya CR7 menyebut Ancelotti sebagai pelatih fantastis dan berharap bisa terus bekerjasama musim depan. Keinginan yang sayangnya tidak bisa terlaksana.

“Ancelotti adalah pelatih hebat dan sosok yang fantastis. Saya harap kami bisa bekerja bersama musim depan,” kicau Ronaldo kemarin.

Meski Madrid menuntaskan musim tanpa trofi, Ronaldo mendapat dua penghargaan atas ketajamannya di musim ini. Dia menyabet Trofi Pichichi sekaligus Sepatu Emas Eropa.

Tak seperti Jose Mourinho yang sempat berselisih dengan beberapa penggawa Madrid, Ancelotti dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pemainnya. Hubungan baik dengan seluruh pemain sudah dia miliki sejak melatih AC Milan, Chelsea dan Paris Saint Germain. Selain Ronaldo, dukungan pada Ancelotti juga sempat diutarakan oleh pemain Madrid lain yang dianggap punya pengaruh besar yakni Sergio Ramos.

Ancelotti: Satu di Antara yang Terbaik di Dunia

madrid

bolaini.com – Carlo Ancelotti punya rekam jejak yang sangat baik di dunia sepakbola. Sebagai pelatih, pria 55 tahun itu adalah salah satu jaminan sukses meraih gelar. Tapi itupun tak cukup bagi Real Madrid.

Ancelotti tak diragukan lagi merupakan salah satu nama besar di Italia. Semasa berkarier sebagai pemain, dia sudah meraih berbagai sukses.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan sebagai seorang mantan pemain, dia menempa diri untuk menjadi seorang pelatih di Coverciano. Memulai karier sebagai allenatore Reggiana, Ancelotti berhasil membawa tim tersebut promosi ke Serie A pada 1995.

Bersama Parma, polesannya mulai makin mengilap. Dia membawa Parma finis runner up di Serie A lalu lolos ke Liga Champions. Kemampuannya lantas membuat Juventus tertarik. Namun perjalanannya di Bianconeri tak mulus. Hanya dua musim di Turin, Ancelotti meraih satu gelar yakni Piala Intertoto.

Dari Juve, pria kelahiran Reggiolo itu bergabung ke AC Milan. Di sinilah dia meraih kejayaan dengan merengkuh dua titel Liga Champions dan menjuarai Serie A untuk kali pertama sebagai pelatih.

Sejak saat itu namanya selalu berada di jajaran pelatih top dunia. Ancelotti dalam perjalanannya menjadi juara di Prancis dan Inggris.

Real Madrid jadi klub arahannya yang teranyar. Di musim pertamanya, pria 55 tahun itu berhasil mempersembahkan gelar Liga Champions ke-10, yang sudah dinanti sejak 2001-2002. Dia mengawinkannya dengan gelar Copa del Rey.
Namun Madrid memutuskan memecatnya di tahun kedua setelah gagal mempersembahkan gelar satupun musim ini. Bagaimanapun perjalanan kariernya tetap jadi salah satu yang tersukses. Di kompetisi Eropa, Ancelotti merupakan salah satu yang terbaik dengan tiga gelar Liga Champions. Total tujuh trofi ajang Eropa sudah diraihnya, bersanding dengan Sir Alex Ferguson dan Giovanni Trapattoni.

Berikut adalah fakta-fakta terkait Ancelotti seperti dikutip dari Reuters.

Karier Bermain

– Lahir di Reggiolo, Italia pada 10 Juni 1959.

– Seorang gelandang untuk Parma, AS Roma, dan AC Milan. Ancelotti membantu Roma memenangi titel Serie A 1983 dan empat Coppa Italia sebelum bergabung ke Milan di 1986.

– Di Milan, dia menambah dua gelar liga lagi plus dua trofi Piala Champions (Liga Champions) pada 1989 dan 1990.

– Ancelotti tampil 26 kali di tim nasional Italia, mencetak gol satu kali dan bermain di Piala Dunia 1990.
Masa Kepelatihan

– Dia memulai karier sebagai pelatih di Reggiana pada 1995 dan membawa mereka promosi dari Serie A. Setelah itu dia bergabung ke Parma selama dua musim.

– Dia menggantikan Marcello Lippi di Juventus pada Februari 1999. Tapi setelah menjalani periode yang bermasalah, dia kembali ke San Siro sebagai pelatih Milan di 2001.

– Dengan Milan, Ancelotti memenangi dua gelar Liga Champions, sebuah trofi Serie A, satu gelar Coppa Italia, dan sebuah titel Piala Dunia Antarklub. Di akhir Mei 2009, dia mengumumkan akan meninggalkan klub setelah mengantarkan finis ketiga di Serie A.

– Sehari kemudian, dia menjadi suksesor Guus Hiddink sebagai manajer Chelsea dengan menandatangani kontrak tiga tahun.

– Chelsea tertinggal dari Manchester United di Premier League menuju enam laga terakhir pada musim debut Ancelotti di Inggris. Tapi sebuah kemenangan 2-1 atas sang rival membawa mereka ke puncak klasemen dan melaju untuk memenangi titel.

– Mereka menuntaskan musim 2009/2010 dengan gelar ganda setelah menang 1-0 atas Portsmouth di final Piala FA.
Chelsea kesulitan bertahan di empat besar pada Januari berikutnya. Dan mimpi dari pemilik klub, Roman Abramovich, untuk menjuarai Liga Champions berujung frustrasi karena tiga bulan kemudian mereka kalah dari MU di perempatfinal.

– Ancelotti dipecat setelah mengakhiri musim dengan kekalahan 0-1 dari Everton yang membuat mereka tertinggal sembilan angka di belakang MU di klasemen akhir.

– Ancelotti bergabung dengan Paris Saint-Germain pada Desember 2011 dan klub tersebut mengakhiri kampanye sebagai runner-up Liga Prancis.

– Di musim berikutnya, dia membawa PSG meraih titel Liga Prancis pertama sejak 1994 dengan dua pertandingan tersisa.

– Ancelotti ditarik ke Real Madrid pada Juni 2013 untuk mengambil alih tim dari Jose Mourinho. Dia mempersembahkan gelar Liga Champions ke-10 di musim pertamanya, juga sukses juara di Copa del Rey.

– Pada musim keduanya, dia tampak mengarah ke arah yang sama dengan Madrid mencatatkan rekor di Liga Spanyol setelah meraih 22 kemenangan beruntun di akhir 2014.

– Namun performa mereka secara berangsur-angsur turun dan tereliminasi di semifinal Liga Champions oleh Juventus dan kalah saing dari Barcelona yang memenangi Liga Spanyol. Ancelotti dipecat pada Senin (25/5/2015), setahun sebelum kontrak tiga tahunnya usai.

– Ancelotti adalah satu dari hanya enam orang, bersama Miguel Munoz, Giovanni Trapattoni, Johan Cruyff, Frank Rijkaard, dan Pep Guardiola, yang telah memenangi gelar Piala Champions/Liga Champions sebagai seorang pemain dan pelatih.

Sejak Milenium Baru, Ancelotti Jadi ‘Korban’ ke-12 di El Real

delbosqueronaldogetty300

bolaini.com – Gagal mempersembahkan gelar di akhir musim membuat Carlo Ancelotti diberhentikan dari jabatannya. Sejak pergantian milenium, Ancelotti adalah korban keduabelas dari tingginya tuntutan untuk tidak henti memberi El Real trofi.

“Carlo Ancelotti sudah memenangkan hati dari para direksi, saya sendiri, dan fans dan dia tetap bagian dari sejarak kami karena dia sudah memberi kami Decima. Tapi seperti yang kita tahu bahwa di Real Madrid orang-orang menuntut yang terbaik dan tuntutan itu sangat kuat sehingga kami akan maju ke depan dengan sebuah perubahan baru.”

Pernyataan tersebut dikeluarkan Presiden Florentino Perez saat mengumumkan pemecatan Carlo Ancelotti, Senin (25/5/2015) kemarin waktu setempat. Ancelotti memang berjasa besar memberi gelar Liga Champions nomor 10 untuk Madrid, gelar yang sudah dinantikan 12 tahun lamanya. Tapi saat dia menuntaskan musim 2014/2015 tanpa trofi, maka tidak ada toleransi buatnya.

Ancelotti menjadi pelatih keduabelas yang turun dari kursi Madrid selepas tahun 2000 – entah itu karena dipecat, mengundurkan diri atau sepakat pisah jalan. Beberapa di antara korban pemecatan itu memang gagal memberi trofi, tapi yang lain tetap didepak meski meraih sukses besar.

Nama pertama adalah Vicente del Bosque. Di kontrak pada November 1999 dia memberi dua gelar La Liga, dua trofi Liga Champions, serta masing-masing satu Piala Super Eropa, Piala Interkontinental, Piala Super Spanyol. Di musim 2002/2003 Del Bosque ‘cuma’ memberi gelar La Liga, dan hanya sehari setelah menggelar pesta juara dia diputuskan tidak dapat perpanjangan kontrak.

Setelah kepergian Del Bosque, Madrid mengalami periode kelam. Dalam empat tahun selanjutnya mereka berganti pelatih sampai tujuh kali. Madrid juga harus menunggu empat tahun untuk kembali menjuarai Liga Spanyol.

Carlos Queiroz yang ditunjuk sebagai pengganti Del Bosque hanya memberikan Piala Super Spanyol dan dipecat di akhir musim 2003/2004. Sementara Jose Antonio Camacho yang mengisi kursi kosong pelatih hanya bertahan empat bulan (Mei 2004 sampai 20 September 2004), dia memilih mundur dari posisinya. Manajemen Madrid selanjutnya menunjuk Mariano Garcia Remon sebagai pengganti, yang ternyata cuma dapat kesempatan empat bulan (20 September 2004 sampai 30 Desember 2004).
Pelatih asal Brasil, Vanderlei Luxemburgo, kemudian ditunjuk untuk melatih Madrid. Tapi dia juga tidak memenuhi harapan. Tak genap satu tahun jadi pelatih di Santiago Bernabeu dia harus menerima surat pemecatan. Untuk mengisi kekosongan kursi pelatih, Madrid mempromosikan Juan Ramon Lopez Caro dari tim reserve.

Penantian Madrid untuk bisa meraja lagi di Spanyol berakhir setelah mereka merekrut Fabio Capello. Namun sama seperti Del Bosque, Capello dipecat usai memberi madrid trofi La Liga.

Mengisi daftar pelatih Madrid berikutnya adalah Bernd Schuster. Mempersembahkan gelar La Liga dan Super Spanyol, pria asal Jerman itu cuma bertahan satu setengah musim. Dia diberhentikan pada Desember 2008 dan digantikan Juande Ramos.

Juande Ramos, dan Manuel Pellegrini yang kemudian ditunjuk sebagai pengganti, tidak mampu memberi trofi buat Madrid. El Real ketika itu berada di bawah bayang-bayang Barcelona yang sangat dominan bersama Josep Guardiola.

Lalu datanglah Jose Mourinho di awal musim 2010/2011. Tiga musim berada di Madrid, pria asal Portugal itu memberi masing-masing satu trofi Liga Spanyol, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Mourinho gagal memberi Madrid trofi di musim terakhirnya, dan kedua pihak sepakat berpisah jalan.

Di musim panas 2013 Madrid resmi memboyong Carlo Ancelotti. Pria asal Italia itu sukses memberi Madrid dua gelar di musim pertamanya yakni Liga Champions dan Copa del Rey. Itu kemudian dia tambahkan dengan Piala Super Spanyol dan Piala Dunia Antarklub. Namun nol gelar di akhir musim membuat Carletto harus menerima dipecat.

Pelatih-pelatih Madrid Sejak Tahun 2000

Pelatih Periode Gelar
Vicente del Bosque 17 November 1999 – 23 Juni 2003 2 La Liga, 1 Super Spanyol, 2 Liga Champions, 1 Super Eropa, 1 Interkontinental
Carlos Queiroz 25 Juni 2003 – 24 Mei 2004 1 Super Spanyol
Jose Antonio Camacho 25 Mei 2004 – 20 September 2004
Mariano Garcia Remon 20 September 2004 – 30 Desember 2004
Vanderlei Luxemburgo 30 Desember 2004 – 4 Desember 2005
Juan Ramon Lopez Caro 4 Desember 2005 – 1 Juni 2006
Fabio Capello 5 Juli 2006 – 28 Juni 2007 1 Liga Spanyol
Bern Schuster 9 Juli 2007 – 9 Desember 2008 1 Liga Spanyol, 1 Super Spanyol
Juande Ramos 9 Desember 2008 – 1 Juni 2009
Manuel Pellegrini 2 Juni 2009 – 26 Mei 2010
Jose Mourinho 28 Mei 2010 – 1 Juni 2013 1 Liga Spanyol, 1 Copa del Rey, 1 Super Spanyol
Carlo Ancelotti 25 Juni 2013 – 25 Mei 2015 1 Copa del Rey, 1 Liga Champions, 1 Super Spanyol, 1 Piala Dunia Antarklub

Satu Shot Falcao Musim Ini Berharga Rp 8,8 M

falcaoi

bolaini.com – Radamel Falcao tak lagi akan berseragam Manchester United. Meski menjalani musim yang tak menyenangkan. Sebuah investasi sia-sia ‘Setan Merah’ mengingat mereka harus membayar 432 ribu poundsterling setiap kali melepaskan tembakan musim ini

MU memutuskan tak mempermanenkan status Falcao musim depan dan akan kembali ke AS Monaco setelah dipinjam selama semusim. Masalahnya penampilan Falcao musim ini sama sekali tak memuaskan.

Dari total 26 penampilan di Premier League, hanya 4 gol yang dibuat oleh pemain asal Kolombia. Empat gol itu berasal dari total 37 tembakan yang dilepaskan olehnya dengan rasio akurasi tembakan sebesar 55 persen.

Jelas statistik tersebut bukanlah yang diinginkan oleh MU yang memang harus membayar mahal saat memboyong eks pemain Atletico Madrid dan FC Porto tersebut.

Dengan gaji 250 ribu pound per pekan dan biaya peminjaman sekitar 6 juta pound, Mirror melansir bahwa MU sudah mengeluarkan total 16 juta pounds untuk biaya peminjaman Falcao, yang bahkan lebih mahal dari harga Daley Blind sekitar 13,8 juta pounds.

Jika dirinci dari total 37 tembakan yang dilepaskan Falcao di Premier League musim ini, maka MU harus membayar sekitar 432 ribu pounds (Rp 8,8 miliar setiap Falcao melakukannya. Dan setiap golnya bernilai mahal yakni 4 juta pounds.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh fans @Manutd atas dukungan yang Anda berikan. Saya tidak akan pernah melupakannya,” ujar Falcao lewat akun twitter-nya tak lama setelah pengumuman MU tak memperpanjang kontraknya.

Drogba Minta Chelsea dan Cech Terus Bersama

during the Capital One Cup Final match between Chelsea and Tottenham Hotspur at Wembley Stadium on March 1, 2015 in London, England.

bolaini.com – Didier Drogba menginginkan Chelsea untuk mengorbitkan pemain-pemain muda. Tapi, striker internasional Pantai Gading itu juga berpesan agar The Blues tetap memberikn tempat kepada Petr Cech.

Drogba memastikan untuk meninggalkan Chelsea. Bukan untuk pensiun, tapi justru dia ingin mendapatkan kesempatan tampil yang lebih rutin.

Drogba menegaskan tak akan bermain untuk tim Premier League lain. Sebuah sinyal diberikan jika dia bakal berlabuh di MLS.

Keputusan itu juga didasari keinginan agar Chelsea bisa segera mengorbitkan para pemain muda ke tim utama. Makanya, Drogba menilai keputusan meninggalkan Stamford Bridge itu diambil pada saat yang tepat.

“Tim harus lebih kuat musim depan untuk bisa bersaing di Liga Champions. Tim ini butuh membeli pemain-pemain baru tapi juga sudah semestinya menurunkan pemain-pemain muda, seperti Dminic Solankes, Ruben Loftus-Cheeks, dan Nathan Akes. Mereka sudah siap untuk dimainkan,” kata Drogba seperti dikutip Fox Sport.

Tapi, di sisi lain Drogba tetap menyimpan keinginan agar Chelsea mempertahankan kiper senior, Cech. Ya, masa depan Cech di Chelsea tengah menjadi spekulasi. Kiper 32 tahun itu dikabarkan sedang mempertimbangkan kelanjutan kariernya di Chelsea setelah posisi dia sebagai kiper utama tergeser oleh Thibaut Courtois.

“Aku rasa klub semestinya mempertahankan dia karena kita tahu seperti apa Petr Cech buat klub ini. Apapun yang terjadi aku rasa klub akan menghormati keputusan yang dia ambil. Kalau dia ingin tinggal, maka dia akan tinggal. Aku rasa dia lebih dari sekadar diterima di sini,” ucap Drogba.

CUPLIKAN GOL Stoke City 6-1 Liverpool: Laga Terakhir Gerrard Berujung Memalukan!

Review_StokeCity-Liverpool-660x330

bolaini.com – Setelah pekan lalu dipermalukan Crystal Palace di kandang sendiri, bertandang ke markas Stoke City, Britania Stadium, Liverpool kembali mendulang kekalahan.

 

Tak tanggung-tanggung, skuat Brendan Rodgers harus menanggung malu setelah dipermak dengan skor mencolok, 6-1. Mame Biram Diouf dengan dua golnya, Jonathan Walters, Charlie Adam, Stephane N’Zonzi dan Petr Crouch bergantian membobol gawang Simon Mignolet. Sementara gol semata wayang Liverpool dicetak oleh Steven Gerrard. Sang kapten pun harus puas laga terakhirnya berakhir dengan pembantaian.

Jalannya Pertandingan

Pada menit-menit awal, The Reds berhasil menguasai jalannya pertandingan. Pasukan Merseyside nampak sangat percaya diri dalam menekan The Potters.

 

Tapi petaka terjadi pada menit ke-22 dimana Diouf membobol gawang Mignolet dengan mudah usai menyontek bola rebound tembakan Charlie Adam ditepis.

Gol Diouf

 

Hanya dalam empat menit, Stoke kembali menambah keunggulan dengan pemain yang sama. Diouf menguasai bola dengan kaki kanannya di kotak penalti, lalu menuntaskan dengan sepakan keras kaki kirinya ke pojok atas gawang Mignolet. Skor 2-0 untuk tuan rumah.

 

Tertinggal dua gol, Liverpool malah terlihat frustasi. Hal tersebut langsung dimanfaatkan Walters yang berhasil membuat tuan rumah semakin menjauh.

Gol Walters

 

Belum puas, kini giliran Charlie Adam yang membobol gawang Liverpool. Sepakan kerasnya dari garis depan kotak penalti menjurus ke sisi kiri gawang, tanpa bisa diantisipasi Mignolet.

GOL Charlie Adams

 

Dan Nzonzi membuat nama besar tim tamu semakin tercoreng berkat golnya yang dicetak satu menit jelang bubar turun minum.

GOL Nzonzi

 

Pada babak kedua Liverpool memperkecil skor jadi 1-5 tepatnya di menit ke-70. Umpan Rickie Lambert dengan jitu dituntaskan Gerrard lewat sepakan ke pojok gawang Asmir Begovic.

GOL Gerrard

Tapi, Stoke belum selesai mempermalukan Liverpool. Tandukan Crouch pada menit ke-86 usai meneruskan crossing Diouf membat angka di papan skor kiam timpang, 6-1.

GOL Peter Crouch

 

Tak ada lagi gol yang tercetak setelah itu. Liverpool menutup kompetisi Premier League dengan kenangan pahit.

Susunan Pemain

Stoke XI: Begovic; Cameron, Shawcross, Muniesa (Wilson 71′), Pieters; Whelan, N’Zonzi; Walters (Odemwingie 67′), Adam, Arnautovic (Crouch 80′); Diouf.
Liverpool XI: Mignolet; Can (Toure 46′), Skrtel, Sakho, Moreno (Ibe 46′); Lucas, Allen (Lambert 69′); Henderson, Gerrard, Lallana; Coutinho.

 

 

Komentar Rodgers Usai Dihajar Stoke 1-6

0505455000-DV1851074780x390

bolaini.com – Manajer Liverpool, Brendan Rodgers, menilai timnya bermain sangat buruk ketika dikalahkan Stoke City 1-6 pada pertandingan terakhir Premier League 2014-15 di Stadion Britannia, Minggu (24/5/2015).

Kemenangan Stoke ditentukan oleh gol Mame Biram Diouf pada menit ke-22, 26′, Jonathan Walters (30′), Charlie Adam (41′), Steven N’Zonzi (45′), dan Peter Crouch (86′). Sementara itu, satu-satunya gol Liverpool dicetak Steven Gerrard (70′).

Meski kalah, posisi Liverpool di peringkat keenam Premier League atau posisi terakhir zona Eropa tetap aman karena pada saat bersamaan Southampton juga menelan kekalahan 0-2 atas Manchester City.

Liverpool mengemas 62 poin dari 38 pertandingan di klasemen akhir Premier League 2014-15. Sementara itu, Southampton berada di peringkat ketujuh dengan perolehan poin 60.

“Kami terlalu banyak membuat kesalahan di pertahanan dan individu. Kami terlalu mudah dikalahkan dan kami tidak mampu bersaing. Kami tampil sangat buruk pada babak pertama,” ujar Rodgers seusai laga.

“Setiap musim panas kami akan selalu mendapatkan pekerjaan besar dan hasil hari ini jelas meratifikasi hal tersebut. Kami mengerti pekerjaan yang bakal kami hadapi dan kami akan mencoba lebih baik lagi musim depan,” tambahnya.

1 2 3 23