Ini Dia Bek Terbaik EPL Sepanjang Masa Menurut Carragher

1

bolaini.com
London – Mantan defender Liverpool Jamie Carragher menyebut kapten Chelsea John Terry sebagai defender terbaik Premier League sepanjang masa.

Terry memimpin lini belakang Chelsea yang disiplin sepanjang laga saat menahan seri Arsenal yang sedang top form dengan skor 0-0 pada Minggu (26/4) dan hanya butuh enam poin sampai menjadi juara Liga Inggris.

Carragher yang sempat bermain bersama Terry di Inggris, percaya bahwa cara pemain 34 tahun membaca pertandingan tidak terkalahkan. Salah satu fitur yang membuat ia meraih sukses.
“Chelsea adalah sebuah tim yang bertahan dengan brilian, dan Terry adalah yang terbaik. Ada banyak bek hebat di Premier League, tetapi ia adalah yang terbaik yang pernah kita saksikan,” ungkap pundit Sky Sport.
“Suatu saat nanti akan ada yang menamai posisi di tiang dekat sebagai ‘Posisi John Terry’. Terry selalu berada di posisi yang tepat. Caranya membaca pertandingan tak bisa ditandingi. Tak ada yang lebih baik darinya,” puji Carragher pada kapten Chelsea itu.

Weidenfeller Absen di Semifinal DFB Pokal

weiden-langerak-660x330

bolaini.com
Dortmund – Michtell Langerak akan disiapkan oleh Borussia Dortmund sebelum bertanding melawan Bayern Munich dengan Roman Weidenfeller mengalami cedera.

Weidenfeller dipastikan akan menepi karena cedera di laga semifinal DFB Pokal melawan Bayern pada tengah pekan ini, dan direhabilitas dalam tiga laga ke depan.

Seperti dilansir oleh laman resmi Dortmund, kiper senior Jerman tersebut mengalami cedera selangka yang cukup parah sehingga membuatnya absen di laga penting tersebut.

Kiper Australia Mitchell Langerak pun akan menggantikan Weidenfeller untuk pertama kalinya sejak bulan Desember saat Dortmund masih dalam periode krisis di paruh pertama musim.

Pertandingan DFB Pokal tersebut sangatlah penting untuk Dortmund. Pasalnya untuk kembali ke zona Eropa bagi Der Borussien sudah sulit untuk diraih dari klasemen. Mereka pun bisa ke Europa League musim depan dengan menjuarai Piala Jerman ini.

Weidenfeller akan absen di dua pertandingan Bundesliga bulan depan. Yaitu saat Dortmund bertandang ke markas Hoffenheim pada 2 Mei dan diragukan tampil di laga selanjutnya melawan Hertha Berlin.

5 Manajer yang Gagal Saat Debut

vieira-660x330

bolaini.com-Alan Sherer

 

Dia mengambil alih tim yang terancam degradasi, Newcastle pada delapan pertandingan tersisa pada musim 2008/2009, tetapi gagal mencegah mantan klubnya turun kasta. Itu merupakan tugas pertamanya mengelola klub di enam tahun terakhir dan sekarang dia lebih aktif menjadi pengamat di BBC Sport.

John Barnes

 

Barnes pertama kali melatih mantan klubnya Celtic kemudian dia langsung dipecat usai mereka tersingkir di piala Inverness. Kemudian bersama tangan kanannya, Jason McAteer pada tahun 2009 mereka mengambil alih Tranmere. Disitulah mereka mendapat julukan “Dumb and Dumber” (Bodoh dan lebih Bodoh).

Barnes menjadi pemain penting selama kariernya menjadi pemain sepak bola, tetapi ketika menjadi manajer. Dia dipecat ketika hanya menang tiga kali dari 14 pertandingan pertamanya, sejak saat itu mantan pemain Liverpool ini tidak pernah terlihat melatih lagi.

Diego Maradona

 

Mungkin bukan tugas manajer pertamanya, namun dia dianggap gagal memimpin timnas Argentina pertamanya. Setelah 12 kali menang  saat memimpin Racing Club, Persatuan Sepak Bola Argentina memutuskan dia melatih timnas. Argentina keok pada babak perempat final melawan Jerman di Piala Dunia 2010. Itu menjadi tugas terakhirnya hingga saat ini.

Gennaro Gattuso

 

Mantan pemain AC Milan menjadi bintang di klubnya, namun personality mungkin terlalu mengintimidasi. Debutnya menjadi manajer di klub Swiss, Sion berakhir dengan buruk, kemudian dia beralih ke Palermo dan setelah enam game dia dipecat.

Tony Adams

Adams yang dikenal dengan sebutan Mr. Arsenal pasti karier manajernya tidak diingat orang-orang. Debut manajernya ketika melatih Wycombe Wanderers ke arah degradasi. Dia kemudian pindah ke Portsmouth menjadi bawahan Harry Redknapp. Dia kemudian memilih untuk mengelola Tottenham setelah mentornya meninggalkan Portsmouth. Tetapi, dia langsung dipecat setelah hanya mendapat 10 poin dari 16 pertandingan. Terakhir, dia ke Azerbaijan yang juga berakhir tidak terlalu baik.

 

Everton vs Manchester United 3-0: Tiga Catatan Penting Tumbangnya Iblis Merah di Goodison Park

everton vs manchester united 3-0-660x330

bolaini.com

Manchester – Setelah tampil mengesankan beberapa pekan ini, Manchester United kembali kalah dengan skor telak 3-0 melawan Everton di Goodison Park (26/04). Setan Merah dibuat tidak berdaya oleh pasukan Roberto Martinez. Ini membuat khalayak cukup terkejut mengingat penampilan sebelum kalah 1-0 melawan Chelsea mereka menang empat pertandingan berturut-turut.

 

Everton bukanlah tim yang tampil baik musim ini, malahan di awal musim mereka sangat buruk. Tetapi, dipengujung musim Premier League mereka mulai menampakkan tajinya. Setelah kalah 5-2 melawan Dynamo Kiev di Liga Europa, Ross Barkley tak pernah lagi kalah, hanya sekali seri dan yang terakhir menjadi korban mereka adalah Manchester United. Anehnya, Everton selalu menang tipis, tetapi melawan United mereka menang besar. Berikut tiga hal yang bisa kita pelajari dari kekalahan 3-0 Manchester United melawan Everton.

 

 

1. James McCarty kembali – Everton memulai musim ini dengan sangat buruk secara keseluruhan dan mungkin faktor terbesarnya adalah penampilan McCarty. Di beberapa bulan terakhir dia tampil sangat baik, dia menjadi otak di lini tengah Everton. Penampilan terbaiknya musim ini mungkin adalah ketika mengalahkan United 3-0. Musim depan, dia akan menjadi kunci permainan Everton.

 

 

 

2. Marouane Fellaini belum jadi super hero – Fellaini memainkan perannya menjadi target man beberapa bulan terakhir dengan baik, tetapi saat melawan Everton dia sangat lemah. Keadaan seperti ini juga terjadi saat Robin van Persie pulih dari cedera. Louis van Gaal menyebutnya ‘penurunan drastis pemain Belgia.

Pemain Ini Cetak Gol Bunuh Diri Terbaik Tahun 2015

balk-660x330

bolaini.com
Eindhoven – Banyak yang sudah pernah mencetak gol bunuh diri yang mencengangkan, tetapi yang satu ini benar-benar akan membuat Anda tercengang.

Apabila FIFA Pukas Award yang dianugerahkan kepada mereka yang mencetak gol bunuh diri, maka apa yang dilakukan oleh Jordi Balk ini akan masuk dalam nominasi salah satu yang terbaik tahun ini.

Kejadian bunuh diri keren ini terjadi di menit ke-17 pertandingan divisi 2 Belanda akhir pekan ini dalam laga FC Oss kontra FC Eindhoven.

Balk yang bermain untuk tim tamu Oss, dengan mengagetkan mencetak gol dari jarak jauh yang membuat kiper tak berdaya melihat melengkungnya bola masuk ke gawangnya sendiri.

Di salah satu penggalan gambaran, yang lebih lucu lagi, penyerang Eindhoven ikut merayakan gol bunuh diri yang dicetak Balk seolah-olah ia berkontribusi pada gol tersebut.

Inter Menang karena Turuti Maunya Mancini

rudigarciai

bolaini.com

Milan – Inter Milan sukses meraih kemenangan penting atas AS Roma. Hasil ini diraih karena seluruh pemain Nerazzurri mengikuti dengan seksama apa yang diminta oleh pelatihnya Roberto Mancini.

Laga melawan Roma di Giuseppe Meazza, Minggu (26/4) dinihari WIB, jadi ujian berat untuk Inter mengingat mereka sudah tak mengalahkan I Lupi sejak 2011. Tak cuma itu penampilan Inter musim ini yang angin-anginan bikin mereka tak diunggulkan menang.

Meski demikian Inter tampil ngotot sejak menit awal dan selalu ambil inisiatif untuk menekan Roma sejak pertahanan lawan. Hasilnya di menit ke-15 mereka unggul duluan lewat gol Hernanes.

Setelah itu Roma memang beberapa kali merepotkan Inter dan bahkan mampu menyamakan kedudukan di menit ke-63 lewat Radja Nainggolan. Tapi gol Nainggolan itu malah memacu Inter untuk lebih tampil trengginas yang hasilnya didapat di menit ke-88 lewat gol penentu kemenangan yang dibikin Mauro Icardi.

Inter menang 2-1 dan mereka pun mempertahankan kans untuk lolos ke Eropa musim depan setelah naik ke posisi ketujuh dengan 45 pin dari 32 laga.

“Kami tampil maksimal di atas lapangan, melakukan apapun yang Mancini perintahkan, menekan mereka di seluruh area lapangan dan mencetak gol,” ujar Icardi seperti dikutip Football Italia.

“Kami semua berkorban demi mendapat penampilan seperti ini dan kami mampu meraih kemenangan. Klub ini menjadi hebat lagi dan Inter itu selalu menginginkan trofi,” lanjutnya.

“Musim depan kami akan bersaing untuk memperebutkan trofi-trofi penting,” demikian dia.

‘Messi-Suarez-Neymar Jaminan Sukses Barca’

<> at Parc des Princes on April 15, 2015 in Paris, France.

bolaini.com
Barcelona – Sampai beberapa tahun lalu Barcelona menguasai Eropa dengan didukung para gelandang yang luar biasa. Peran para pemain tengah The Catalans berkurang berkat besarnya kontribusi trio Messi-Suarez-Neymar.

Saat meraih sukses besar bersama Josep Guardiola, sering sekali Barca turun ke lapangan tanpa seorangpun striker murni. Permainan kolektif di barisan tengah dengan ball possession serta ‘tiki taka’, plus mengandalkan Messi di depan mengantar mereka meraih banyak sekali trofi.

Kondisinya berubah sejak Luis Enrique datang. Barca bermain lebih direct dengan memaksimalkan trio mautnya di lini depan.

Meski membantah kalau peran lapangan tengah yang sebelumnya sangat dominan kini diambil alih trio Messi-Suarez-Neymar, Andres Iniesta mengakui kalau ketiga pemain tersebut punya kontribusi luar biasa.

“Kami mencoba memastikan kalau kondisinya tidak seperti itu, semua posisi di atas lapangan punya peran sama besar. Tapi tentu saja memiliki tiga pemain dengan kualitas seperti itu adalah jaminan untuk tim ini,” sahut Iniesta dalam wawancaranya dengan Marca.

“Segala hal yang kami lakukan untuk memanfaatkan potensi maksimal dari mereka bertiga membawa kami lebih dekat pada kemengan. Itu soal menemukan keseimbangan atas apa yang kami lakukan,” lanjutnya.

Terkait peluang meraih treble di akhir musim, Iniesta menyebut pembicaraan soal itu tidak akan mengganggu konsenstrasi. Namun dia merasakan kondisi yang sama seperti di tahun 2009 lalu, saat berhasil merebut semua trofi di kompetisi yang diikuti.

“Sulit untuk membandingkan, tapi kami merasakan hal yang bagus. Perkembangan yang dialami tim ini menawarkan jaminan untuk kami tetap menjaga keyakinan akan apa yang kami lakukan, tapi pertandingan tersisa tetap krusial. Ada garis sangat tipis antara sukses dan gagal,” tuntasnya.

Icardi Segera Teken Kontrak Baru

mauroicardii

bolaini.com

Milan – Kemenangan Inter Milan atas AS Roma diiringi kabar baik lainnya. Penyerang andalannya, Mauro Icardi, mengaku akan menuntaskan negosiasi kontrak baru dalam waktu dekat ini.

Masa depan Icardi belakangan tengah jadi spekulasi menyusul belum tuntasnya pembicaraan kontrak baru berdurasi hingga 2019 itu. Icardi disebut tengah mempertimbangkan beberapa klub Eropa lainnya.

Contohnya adalah Chelsea dan Liverpool yang diberitakan siap memberi gaji dengan jumlah besar untuk pemain berusia 22 tahun. Apalagi Inter pun belum tentu akan bermain di kompetisi Eropa musim depan.

Menyikapi rumor tersebut, Icardi kemudian memberikan pernyataan menggembirakan untuk Inter ketika proses negosiasi kontrak barunya akan tuntas dalam waktu dekat ini dan dia pun akan meneken kontrak baru.

“Kami sedikit lagi akan mencapai kesepakatan. Aku ingin bertahan, jadi ini tinggal antara agenku dan klub,” ujar Icardi kepada Mediaset seperti dikutip Football Italia.

Icardi sejak dibeli dari Sampdoria musim lalu sudah memperlihatkan ketajamannya di depan gawang. Total 31 gol dibuatnya dari 65 penampilan dengan musim ini sudah bikin 22 gol, termasuk satu gol dari pesepakbola asal Argentina itu saat Inter menang 2-1 atas AS Roma, Minggu (26/4) dinihari WIB.

Garcia: Hasil Imbang Lebih Adil untuk Roma

rudigarciai

bolaini.com
Milan – Pelatih AS Roma, Rudi Garcia, mengutuk permainan timnya saat kalah dari Inter Milan. Disebut hasil imbang lebih adil jika melihat performa oke Giallorossi selama 24 jam.

Melawat ke Giuseppe Meazza dalam lanjutan pekan ke-32 Serie A, Minggu (26/4) dinihari WIB, Roma memang sempat tertinggal lebih dulu setelah Hernanes bikin gol di menit ke-15.

Tapi setelah itu Roma mampu bangkit dan merepotkan Inter, salah satunya ketika tembakan Victor Ibarbo mengenai tiang di menit ke-18. Roma akhirnya mampu menyamakan skor di menit ke-63 lewat Radja Nainggolan.

Sayang satu poin yang di depan mata sirna usai Mauro Icard menjebol jala Morgan De Sanctis di menit ke-88. Roma pun kalah 1-2 dan masih tertahan di posisi ketiga dengan kondisi Lazio bisa menjauh, andaikan menang atas Chievo.

Soccernet mencatat Inter dan Roma sama-sama punya 11 tembakan tapi tim tamu punya jumlah on target lebih baik yakni 4 berbanding 3 milik Inter. Wajar jika kemudian Garcia menilai hasil imbang lebih baik jika melihat jalannya laga tersebut.

“Saya rasa imbang adalah hasil yang lebih logis, tapi kami tahu di level pertandingan seperti ini bisa ditentukan dari insiden kecil,” ujar Garcia di Football Italia.

“Tembakan kami membentur tiang di babak pertama, tapi setelah itu kami bermain seperti Roma biasanya. Kami menyamakan kedudukan, berusaha keras untuk menang, dan pada akhirnya kebobolan gol yang menyebabkan kekalahan,” lanjutnya.

“Saya tidak perlu mengeluhkan apapun ketika berbicara soal movitasi dan keinginan menang justru datang dari para pemain kami. Kami tidak punya waktu komplain karena laga berikutya hari Selasa besok,“

Griezmann Dua Gol, Atletico Atasi Elche 3-0

atletico6

bolaini.com
Madrid – Antoine Griezmann jadi pahlawan kemenangan Atletico Madrid kala menjamu Elche. Penyerang internasional Prancis itu mencetak dua gol dan membawa timnya menang telak 3-0.

Atletico tampil dominan saat menjamu Elche di Vicente Calderon, Sabtu (25/4/2015) malam WIB. Mereka unggul penguasaan bola 54%-46% dan banyak menciptakan peluang.

Total 18 tembakan dilepaskan anak asuh Diego Simeone di mana sembilan di antaranya tepat sasaran. Sementara Elche punya 13 percobaan dengan hanya tiga yang mengarah ke gawang.

Meski demikian, Atletico butuh 55 menit sebelum Griezmann memecah kebuntuan. Raul Garcia lantas menggandakan keunggulan di menit ke-63. Griezmann menutup kemenangan timnya dengan satu gol lain di menit ke-77.

Dengan kemenangan ini, Atletico kini mengoleksi nilai 72 dari 33 pekan La Liga dan masih duduk di posisi tiga klasemen. Mereka tertinggal empat angka dari Real Madrid yang baru bermain 32 kali. Sementara Elche belum beranjak dari posisi 14 dengan 34 poin dari 33 pertandingan.

Jalannya Pertandingan

Atletico mengancam gawang Elche secara langsung pada menit ke-12. Umpan silang Guillherme Siqueira dari sisi kiri disambut sepakan voli oleh Raul Garcia di sebelah kanan di dalam kotak penalti. Laju bola sukses ditepis Przemyslaw Tyton.

Upaya lain dari Garcia tercipta di menit ke-19. Kembali meneruskan umpan silang Siqueira, tendangannya kali ini juga mampu diantisipasi Tyton.

Tak selang lama, giliran Tiago Mendes yang memberikan ancaman untuk Elche melalui sundulan. Masih melambung.

Pada menit ke-23, Diego Godin mendapatkan peluang apik di muka gawang saat menyambut umpan lambung Koke dari sepak pojok. Belum menemui sasaran karena masih tipis di atas mistar gawang.

Elche merespons lima menit berselang. Sepakan Pedro Mosquera dari luar kotak penalti hanya tipis di sisi kanan gawang.

Garcia kembali mendapatkan kesempatan pada menit ke-38. Lagi-lagi upayanya yang kali ini melalui sundulan berhasil diamankan Tyton. Tak berselang lama, Fernando Torres juga menebar bahaya. Sepakannya melenceng sedikit ke kanan atas gawang.

Sebuah peluang dari Godin menutup babak pertama. Sundulannya menyambut umpan silang Gabi diamankan oleh kiper. Tak ada gol sepanjang 45 menit pertama.

Semenit babak kedua berjalan, Atletico langsung mendapatkan kans. Antoine Griezmann menyambut umpan silang Siqueira di dalam kotak penalti, hanya saja masih meluncur tipis di atas mistar.
Di menit ke-48, Torres menerima umpan terobosan di kanan dan merangsek ke dalam kotak penalti. Berhadapan satu lawan satu dengan kiper, sepakannya masih terbaca dan hanya menghasilkan sepak pojok.

Atletico akhirnya memecah kebuntuan di menit ke-55. Mulanya Koke mengarahkan sepakan ke gawang meneruskan umpan silang Juanfran. Tapi bola ditepis Tyton.

Beruntung bagi Atletico, Griezmann dalam posisi tepat untuk menyambut bola pantulan. Dengan kepala, pemain internasional Prancis itu menceploskan bola ke dalam gawang.

Garcia menggandakan keunggulan di menit ke-63. Sepakan kaki kirinya dari luar kotak penalti tak mampu dihentikan oleh Tyton.

Sepuluh menit kemudian, Elche balas mengancam. Sepakan Adrian menyambut sodoran dari Coro mengarah tipis ke kiri gawang Jan Oblak.

Atletico melanjutkan tekanan dan berbuah gol ketiga di menit ke-77. Saul Niguez bekerja keras di dalam kotak penalti Elche dan berhasil merebut penguasaan dari bek lawan. Dari sisi kanan, Saul kemudian mengoper ke Griezmann di depan gawang dan dengan satu sontekan melesakkannya ke dalam gawang.

Dua menit kemudian, Tiago melepaskan tembakan melengkung dari sisi kiri. Masih sedikit saja di sisi kanan gawang.

Di 10 menit terakhir, Elche melakukan sejumlah tekanan. Sepakan Coro pada menit ke-82 ditepis Oblak. Dua menit berselang, tendangan Adrian dari jarak jauh juga mampu diamankan kiper Atletico tersebut.

Alvaro memberikan tekanan lain untuk Atletico di menit pertama masa injury time. Tapi mampu dibaca oleh Oblak. Sementara sundulan Adrian tak lama kemudian dari jarak sangat dekat hanya melenceng ke kiri. Laga berakhir tanpa gol lain.

Susunan pemain:

Atletico: Oblak, Jesús Gámez, Gime;nez, Godín, Siqueira (Juanfran 48′); Tiago, Gabi, Koke, Raúl García (Saul 69′); Griezmann (Jimenez 80′), Fernando Torres

Elche:Tyton, Enzo Roco, Cisma, Samu Martínez, Rafa Gálvez, Mosquera (Arques 86′), Adrián, Rodrigues (Alvaro 73′), Coro, Fayçal, Jonathas (Herrera 78′)

1 2